@friendikadhiah

(via con-tinuum)

Through the Rain

Aku tidak bisa tidur. Padahal ini sudah dini hari. 

Bukan, masalahnya bukan pada bulan yang beberapa saat lagi dikudeta matahari - malam yang sebentar lagi berganti pagi. Justru masalahnya pada malam itu sendiri. Terlalu lama rupanya kubiarkan gelap berkecamuk dengan begitu semena-mena, mbaurekso dalam benakku hingga tidak sadar sebentar lagi hari mulai bergeliat pasti. 

Aku tidak lagi lena dalam mimpi-mipi. Kamu tahu, ingin aku berucap beribu terimakasih padamu. Untuk membuka pintu hatiku yang lama terkunci. Yang sejak saat itu entah dimana kutinggalkan si anak kunci. Aku lupa.

Nyatanya selama ini aku nyalang saja tanpa benar-benar membuka mata. Bangun saja tanpa sungguh-sungguh merasa. Betapa kikirnya kusia-siakan fakta bahwa aku ini beruntungnya betapa. Jalanku ini, rupanya, tak berkelok seberapa. Begitu naifnya kukira dunia sudah kejam padaku dalam waktu yang lama. Belum. Belum seberapa ternyata. 

Lukamu. Membuatku kembali peka.

Lihat, betapa tumpulnya seorang aku memahami semua ini. Sampai harus kamu samakan irama hujan mencumbu tanah dengan rinai dari sudut matamu semata untuk membuatku tahu. Diantara hujan yang haru-biru. 

Sementara di luar hujan masih saja enggan berjeda. 

Move On - Make it Simple!

Move on? Saya yakin bukan perkara yang mudah dilakukan oleh siapapun. Tapi sebenernya bisa dibikin simpel. Dinyatakan dengan kalimat seringan-ringannya, sesantai-santainya. Iseng-iseng buka inbox jaman baheula, tetiba nemu satu kalimat ‘move on’ yang sungguh mujarab, makjleb, dan saya yakin bikin nggerus siapapun yang pada siapa kalimat itu ditujukan. Justru karena tidak menggunakan kata-kata yang bertele-tele dan sarat makna tersirat. Justru karena kata-katanya kelewat simpel, kelewat ringan, seakan-akan nggak ada beban apapun di baliknya. Spesial gubahan salah seorang temen saya. Kurang-lebih begini bunyinya:

Tahun-tahun luar biasa sudah terlewati, itu adalah waktu yang seharusnya lebih dari cukup, tampaknya semua yang saya tahu sudah kamu mengerti, mungkin sudah waktunya saya beranjak ke tempat lain, mungkin kamu sudah tidak membutuhkan saya lagi, terima kasih banget atas semua yang kamu berikan dan maaf jika missed call, sms, atau yang lain telah mengganggu anda. Sampai jumpa :D

Luar biasa, bukan? :D

If you really want something and you work hard for it, the universe will conspire to achieve your dream

Paulo Coelho

Kamu, Pelangi di Senja Hari :)

Aku menemukanmu berbatas ruang dan waktu. Warnamu kelabu, kamu tahu. Bukan siapa, hanya udara yang mengaburkan pandangku padamu, entitasmu. Entah bagaimana alam berkontemplasi mempertemukan kita. Yang bahkan sebenarnya kelewat sunyi untuk berkata-kata.

Ah, kata-kata

Betapa sederhana sebenarnya, oleh apa ini bermula. Tentang begitu banyaknya kesamaan diantara kita, entah benar atau hanya perasaanku saja. Menjelmakanmu menjadi spektrum cahaya yang begitu majemuk, menjadikannya benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Entah hilang kemana kelabumu. Entah bagaimana rupa gelombang yang menelannya dalam dimensi yang tak bisa kupahami.

Warnamu berbias, seperti pelangi :)

Tapi ini senja hari. Aku seperti gadis kecil yang bermain di taman bunga sejak hari masih pagi. Dengan harap yang amat sangat, menanti kesempatan untuk bisa mengagumi betapa indah warna pelangi. Yang pernah kudengar dari dongeng manusia-manusia kini; mereka yang begitu karib berkawan dengan realita tapi juga enggan memusnahkan mimpi tentang tangga bidadari.

Toh akhirnya kamu muncul juga.

Pun semburatmu lembut, kamu terlihat begitu nyata. Dan pada akhirnya aku tak akan lagi sebatas menerka-nerka.

Tentang warnamu yang begitu indah, tidak saja dari cerita mereka.

Tapi sekali lagi, ini senja hari. Kamu akan pergi, segera setelah udara menjelma dalam hitam yang menggelapkan seluruh; menelanmu dengan begitu angkuh.

Seakan belum cukup, sebuah suara dari kejauhan berkali memanggilku. Yang kemudian kujawab dengan sahutan parau, menjadikannya sebuah keharusan untuk berbalik arah lalu menenggelamkan diri di balik pintu.

Kamu seperti pelangi di senja hari.

Aku dan kamu, pada suatu waktu harus saling berucap sampai jumpa. Pun sesingkat apa waktu kita, enggan aku menganggapnya utopia.

Karena kuharap kamu tidak akan menjelma menjadi semata elegi.

Meski bersekat ruang, aku percaya kamu selalu ada di suatu tempat yang tidak akan terjamah siapapun kecuali kamu:

Hatiku :)

Well, It’s You :) - Part I

Aku terlalu lama memutuskan akan menampung ini semua dimana. Ah, terlalu banyak memang yang berputar-putar di kepalaku ini. Sejak kemarin. Sejak mulai ada keinginan aneh dari dalam diriku untuk menghentikan waktu, membekukannya hingga tidak ada proses apapun yang terjadi kecuali satu: kepak ribuan sayap kupu-kupu mungil yang rasanya seperti sedang menari-nari di perutku. Apa itu? Ah, aku yakin kamu pun tahu. Kamu pernah merasakannya, ya kan? Entah karena aku atau yang terdahulu. Tapi itu tidak penting lagi sekarang. Yang terpenting adalah bahwa aku sungguh takjub menemukanmu, beriring dengan sensasi itu.

Jadi, stop memaksaku untuk mengungkapkannya dalam kalimat yang lebih eksplisit. Biarlah kupakai energi yang rasanya hampir meluap parah ini untuk menikmatinya untukku saja, pun kamu akan menganggapku terlalu kikir bahkan kepada udara.

Lalu kuputuskan untuk menuangkannya disini, lembaran bisu yang bahkan tak bisa kulihat jika dia tersenyum malu-malu mendengar ceritaku. Apa boleh buat, paling tidak dia tidak akan berkusut muka karena aku terlalu lama menyusun kata-kata. Menguraikan dengan susah payah tentang awal mula semuanya. Bukan, bukan karena tidak ada apa-apa. Justru karena terlalu banyak yang bersesakan di dalam kepala. Kamu tahu, kelihatannya seperti sulur-sulur anggur yang saling bertaut di antara bunga-bunganya yang mekar keunguan. Rumit, tapi menarik. Mungil, tapi tetap saja tidak mengurangi esensi indahnya.

Metamorfosis

Kenapa seorang aku menjadi begini?
Dipermainkan metamorfosis kehidupan.